Tidak Sesingkat Senja

0
42
Kataku

KATAKU – Ini sebuah cerita yang bermula di kota Tinutuan. Ya, Kota Tinutuan berada di Ibu Kota Provinsi Sulawesi Utara yaitu Manado.

Tentu banyak cerita lahir dari Kota yang kaya dengan tempat wisata lautnya, Bunaken.

Namun kali ini, aku akan bercerita tentang kisah cinta yang harus kandas karena pahitnya jarak.

Cerita ini bermula dari delapan tahun yang lalu. Aku bertemu dengan seseorang yang tiba-tiba membuatku kebingungan dengan perasaanku sendiri. Entah kenapa daya pikatnya begitu tinggi.

Setelah melihatnya sekali, duakali bahkan sampai berkali-kali masih saja perasaan yang tidak bisa dijelaskan ini selalu hadir.

Dengan sengaja aku meminta pada semesta “aku ingin dia, aku ingin memilikinya,” .

Makin hari perasaan ini semakin tidak bisa dijelaskan. Dengan penuh keberanian aku mencoba untuk mendekatinya.

Aku mencoba pergi ke kafe yang sering ia datangi. Iya-iya, seseorang itu sangat suka sekali memesan coffee latte, duduk di sudut kafe dan bersandar di jendela kafe tersebut sambil membaca sebuah novel.

Semenjak melihatnya, aku jadi sering sekali mencari tau tentangnya. Mulai dari tempat favoritnya, makanan kesukaannya, pokoknya semua hal yang dia sukai.

Setelah segala usaha yang aku lakukan, akhirnya aku memberanikan diri untuk menatap dan mengajaknya berbicara secara langsung.

Saat hendak pulang dari coffee shop tersebut, nampaknya hujan sedang turun. Wanita itu hanya berdiri diam di depan kafe, seolah berharap agar hujan segera reda.

Aku mencoba untuk menghampiri dan menyapanya.

“Masih hujan jangan dulu pulang,” ucapku.

Mendengarku berbicara, dia langsung membalikan badannya ke arahku.

Entah apa yang terjadi, tatapan matanya membuatku seolah tak berpijak pada bumi.

“Iyaa masih hujan, padahal lagi buru-buru,” ucapnya Membalas perkataanku.

“Kalau gitu aku antar aja ya,” balasku.

Sepertinya semesta sudah merencanakan hal ini. Ia menjawab ajakanku dengan penuh kelembutan.

“Boleh?,” ucapnya penuh tanda tanya.

“Kenapa nggak boleh? Ini sudah malam dan keadaan lagi hujan. Katanya tadi lagi buru-buru kan?,” kataku.

“Uuumm, kalau ngak ngerepotin boleh deh,” jawab wanita itu.

Hatiku serasa bergetar saat melihatnya menjawab perkataanku dengan penuh senyuman.

Selama di dalam mobil, wanita itu hanya duduk diam dan terus memperhatikan setiap tetes hujan yang jatuh membasahi kaca mobil tersebut.

“Kalau lagi hujan gini udaranya segar yaa,” kata dia, membelah keheningan.

“Segitunya banget ngeliatin hujan, kamu sesuka itu sama hujan?,” sahutku.

“Aku suka hujan, tapi lebih suka sama rintik,” jawab wanita itu.

“Mengapa begitu?,” tanyaku.

“Karena terkadang hujan benar-benar merepotkan. Kalau lagi berkendara apalagi mereka yg naik motor pasti mereka kebasahan dan harus neduh. Tapi kalau rintik kita masih tetap bisa melanjutkan perjalan tanpa harus khawatir bakal basah kuyup,” ucapnya.

Mendengarnya berbicara seperti itu aku hanya tersenyum. Suaranya mampu menggetarkan hatiku, lalu bagaimana jika aku bisa memiliki hatinya.

“Eh stop rumah aku sudah di depan, berhenti di sini saja,” ucapnya.

Saat ia hendak membuka pintu, tiba-tiba tanpa sadar aku menarik tangannya dan tanpa terduga, sesaat mataku dan matanya benar-benar saling bertatapan.

“Tunggu dulu ini kan masih hujan, biar aku ambil payung dulu di belakang. Kamu tunggu di sini dulu yaa,” pintaku.

Tak lama kemudian, aku membuka bagasi di belakang dan segera mengambil payung.

Dengan baju yang sedikit basah, aku buru-buru membuka pintu mobil dan memberikan payung itu pada wanita yang sejak tadi duduk di dalam mobil bersamaku.

“Ayuk sini pakai payung biar ngak basah,” ucapku sambil membuka pintu.

Tak lama setelah itu, wanita tersebut keluar dan berada di bawah satu payung bersamaku.

Rasanya benar-benar semakin dekat dan hatiku benar-benar tidak bisa menjelaskan tentang suasana saat itu. Karena yg terbesit hanyalah rasa bahagia.

“Aduh maaf yaa jadi ngerepotin kamu,” ucapnya tiba-tiba.

Sesampainya di depan rumah, dirinya memberiku tawaran untuk masuk.

“Masuk dulu yuk, atau mau aku buatin yang hangat?,” ucapnya.

“Udah gak usah, tadikan udah pesen kopi di kafe. Aku langsung balik aja. Kalau boleh masuknya lain kali aja yaa,” ucapku sambil bercanda.

Wanita itu hanya tertawa kecil mendengar kata-kata ku.

“Yaudah makasih yaa,” sebut wanita itu.

Saat hendak melangkah tiba-tiba wanita itu memanggil namaku.

“Nugraha,” panggilnya.

Seketika aku terkaget saat ia memanggil namaku. Entah mengapa dia tau namaku.

“Iyaa kenapa?,” tanyaku.

“Sekali lagi terimakasih yaa, kamu pulangnya hati-hati,” ucapnya.

Saat sedang dalam perjalanan pulang ada notifikasi DM Instagram yang masuk.

Sesuai dugaan ku, dia adalah Arumi, wanita yang baru saja aku temui tadi.

Ia mengirimkan pesan ucapan terima kasih karena aku telah mengantarkan dirinya pulang.

Ternyata dia sadar laki-laki yang pada saat itu mengikuti akun Instagramnya adalah aku.

Sesampainya aku di rumah, pesan Instagram nya baru aku balas. Sejak saat itu, kami berdua menjadi semakin dekat.

Selalu komunikasi setiap hari pergi ke kafe yang ia sukai, setiap hari melihat senja pada saat sore hari dan pergi ke toko buku untuk sekedar melihat-lihat novel yang baru datang di toko.

Sejak semakin dekat dengannya, makin hari perasaan ini semakin tidak menentu.

Wajahnya yang sangat anggun itu, nampaknya benar-benar menikmati cahaya senja yang semakin menghilang.

“Senjanya udah mulai tenggelam tuh,” ucapku

“Iyaa nih padahal masih ingin lihat,” kata wanita itu.

“Hari ini pasti senjanya lagi malu,” kataku.

“Hah, malu? Kok gitu?,” jawab Arumi penuh tanya.

Sejenak aku menatap kembali wajah dan matanya.

“Dia fikir dia adalah ciptaan Tuhan yang paling indah, tapi ternyata ada yg jauh lebih indah di bumi ini, yaitu kamu Arumi,” ungkapku.

Arumi hanya terdiam seolah tidak mengerti apa yang ku maksud.

Tanpa basa basi lagi, aku mencoba untuk perlahan mengungkapkan perasaan ini. Memberanikan diri meraih dan menggenggam tangannya.

Aku sempat kaget, Arumi sama sekali tak menolak untuk ku genggam tangannya.

“Arumi, duniaku seakan terisi penuh oleh kehadiranmu, hatiku selalu saja membuat diriku kebingungan untuk menjelaskan apa yg terjadi,” sebutku.

“Arumi aku mencintaimu, aku ingin menjadi seseorang yang selalu membuatmu tersenyum dan tertawa. Arumi aku ingin menjadi dunia baru untukmu,” kataku.

“Nug, tapiii…,” kata Arumi.

“Kenapa Arumi? Apa kamu ragu dengan perasaan ini?,” tanyaku.

“Bukan Nug,” jawabnya.

“Lalu apa?,” tanyaku kembali.

“Nugraha aku juga mencintaimu, aku juga mau menjadikanmu dunia baru untukku,” jawab Arumi.

Mendengar Arumi yang memberikan jawaban seperti itu, Nugraha benar-benar bahagia.

Dia merasa bahwa denyut nadi Arumi sekarang adalah tanggung jawabnya.

Nugraha tampaknya sangat bahagia dengan penuh kegembiraan.

Nugraha memeluk Arumi dan disaksikan oleh cahaya senja yang akan segera menghilang digantikan oleh malam. Bersambung Part II. (Ayu Senjani)

LEAVE A REPLY