Alfamidi Sebut Donasi di Gerainya Mendapatkan Izin. Ini Penjelasannya

0
29
Suasana salah satu gerai Alfamidi di Kota Palu. Foto : Ist

KATAKU, PALU – Perusahaan Alfamidi sebut donasi uang receh yang mereka terapkan di gerai-gerainya adalah legal dan telah mendapatkan izin dari Kementerian Sosial (Kemensos) Republik Indonesia (RI). Uang tersebut dikatakan akan dikumpulkan dan dibagikan kepada masyarakat yang berhak menerimanya.

Alfamidi merupakan toko swalayan yang telah memiliki banyak cabang, tersebar di penjuru Indonesia. Perusahaan yang menjual berbagai kebutuhan pokok masyarakat ini, menerapkan donasi kepada para pelanggannya. Donasi itu diambil dari sisa uang belanja pelanggan Alfamidi.

Dari informasi yang berhasil dihimpun, Alfamidi kembali mengaktifkan program donasi konsumen secara nasional sejak akhir bulan Agustus 2018 lalu. Program donasi dari Alfamidi telah bekerjasama dengan yayasan-yayasan Islam yang legal dan kredibel.

Corporate Communication Manager Alfamidi, Arif Lutfian Nursandi, menyebutkan, kegiatan donasi yang mereka lakukan adalah legal dan mendapat izin dari Kemensos RI. Donasi itu dikatakan Arif dimanfaatkan untuk kemanusiaan.

“Hasil sumbangan sukarela pelanggan setia Alfamidi dikelola langsung yayasan yang berbadan hukum dan memiliki izin yang lengkap. Hasil donasi dimanfaatkan untuk kemanusiaan,” sebut Arif, saat dikonfirmasi, Jumat 15 Oktober 2021.

Ia menjelaskan, hal tersebut berdasakan perintah UU Nomor 9 Tahun 1961 tentang pengumpulan uang atau barang. Ia kembali menjelaskan, bahwa pada pasal 4, jika pengumpulan itu diselenggarakan di seluruh wilayah negara, maka perizinannya dari Kemensos RI.

Ia mengatakan, yang harus mengantongi izin pengumpulan donasi adalah yayasan. Yayasan harus mengajukan izin secara Online Single Submission (OSS) atau pengurusan izin secara online di Kemensos. Setelah mengantongi legalitas, yayasan akan membuat perjanjian kerjasama dengan Alfamidi maksimal tiga bulan dalam satu periode, sesuai dengan izin yang mereka dapat dari Kemensos.

“Sebelum bekerja sama mereka harus melalui FIT and Proper test terlebih dahulu. Sebagai perusahaan terbuka, kami memang tidak sembarangan bekerjasama. Meski sudah memiliki izin yang lengkap, yayasan yang mau mengelola donasi harus melalui tahap seleksi yang ketat,” jelasnya.

Dikatakan juga, untuk yayasan berbasis agama Islam seperti Lembaga Amil Zakat, Infaq dan shodaqoh Muhammadiyah (Lazismu), Yayasan Mizan Amanah dan Baitulmaal Muammalat ada dibawah Kementerian Agama (Kemenag) RI.

“Jadi, semua dana donasi yang yayasan Islam dapat harus dilaporkan dan tercatat semua ke Baznas untuk kemudian diteruskan ke Kemenag. Selanjutnya Kemenag akan mengaudit yayasan-yayasan Islam tersebut. Jadi, mereka izinnya tidak ke Kemensos,” tutur Arif.

Arif mengungkapkan, untuk di Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), dalam pemanfaatan donasi konsumen, disalurkan untuk membantu korban gempa dan tsunami pada September 2018 lalu. Hampir 50% donasi konsumen Alfamidi secara nasional ditambah dengan dana CSR Alfamidi diarahkan ke Kota Palu, Kabupaten Sigi dan Donggala, baik dalam bentuk bantuan makanan pokok, higien kits, hunian sementara dan sebagainya.

“Belum lagi penyaluran 1.000 sembako di Bulan April 2020 kemarin. Lebih dari 1.000 paket sembako di Agustus 2021, tujuh gerobak untuk tujuh UMKM, serta masih banyak lagi bantuan yang lain,” ungkapnya.

Perlu diketahui, u<span;>ntuk wilayah di Sulteng, perusahaan ini, berhasil mengumpulkan uang dari donasi konsumen setiap bulannya sebesar Rp30 juta. Angka ini disebut arif masih sangat kurang, dikarenakan Sulteng yang mempunyai  wilayah yang cukup luas.

“Oleh karenanya, donasi di Sulteng masih disubsidi dari wilayah Jawa. B<span;>ila pelanggan tidak setuju mendonasikan uang kembaliannya, maka petugas kasir tetap akan memberi semua uang itu dengan tetap memberikan pelayanan yang terbaik,<span;>” ujar Arif.

Menurut seorang warga Kota Palu, Hidayat (26 tahun), mengaku ikhlas jika mendonasikan sisa uang belanjanya di Alfamidi, meski dirinya tidak mengetahui donasi tersebut disalurkan ke mana.

“Ikhlas saja kalau berdonasi. Insyaallah berkah untuk kita. Urusan sampai dan tidaknya donasi saya ke yang membutuhkan, itu dosanya mereka,” kata Dayat.

Berbeda halnya dengan Nurul Jannah (25 tahun), dirinya memilih untuk tidak mendonasikan uang sisa belanjanya di Alfamidi, karena sudah mempunya tempat donasi tetap, setiap bulannya.

“Kalau misalnya mereka jelaskan di mana akan didonasikan atau ada publikasi dari proses pendonasian mungkin kita setuju. Karena transparan,” tandasnya. (*)

LEAVE A REPLY